Kamis, 26 September 2013


Wacana singkat sesuai dengan EYD


Naples - Napoli terancam sanksi berat. Federasi Sepakbola Italia (FIGC) sedang melakukan penyelidikan terhadap Partenopei atas kasus dugaan pengaturan skor di laga melawan Sampdoria pada akhir musim 2009-10.

Pertandingan itu sendiri pada akhirnya dimenangkan oleh Il Samp 1-0 dlewat gol tunggal pemain yang kini memperkuat AC Milan Giampaolo Pazzini. Atas hasil itu, Sampdoria finis keempat dan berhak mengikuti kualifkasi Liga Champions.

Diberitakan Guardian, mantan kiper Partenopei Matteo Gianello — sekarang free agent– dituduh telah mencoba mengatur skor pertandingan itu.

Kasus tersebut turut menyeret nama bek Gianluca Grava dan kapten Paolo Cannavaro. Kedua pemain itu terancam sanksi karena diduga mengetahui adanya kejadian itu namun tidak melaporkannya kepada pihak berwenang.

Jika terbukti bersalah, Napoli bisa dijerat dengan hukuman berupa pengurangan poin sementara para pemainnya bisa dijatuhi hukuman skorsing.
Masih segar dalam ingatan skandal pengaturan pertandingan yang belum lama terjadi Italia. Salah satu yang terlibat adalah pelatih Juventus, Antonio Conte yang kini masih menjalani hukuman skorsing.

Referensi:

Artikel dengan ragam bentuk bahasa


  • Ragam bahasa ilmiah


Karya Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya.
contoh:
Peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca. Kegiatan membaca dapat dipandang sebagai kegiatan dasar untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia agar dapat mencapai kemajuan hidup. Membaca adalah sebuah kegiatan sine quo non dalam seluruh proses pendidikan. Segala bidang baik yang berkaitan dengan ilmu maupun budaya tidak akan dapat dikaji dan diperoleh tanpa kegiatan membaca.
            Paradigma tentang hakikat dan tujuan pembelajaran membaca lebih menekankan pada kemampuan memahami teks bacaan. Pemahaman terhadap teks bacaan tersebut tentunya memiliki standar yang dapat dijadikan tolok ukur apakah pembaca benar-benar telah memahami dan menguasai kandungan teks bacaan (content area) atau belum. Pembelajaran membaca yang termasuk dalam pembelajaran bahasa menjadi satu hal yang pokok dan tidak bisa dikesampingkan oleh sekolah sebagai institusi pendidikan yang menjangkau perwujudan budaya literasi (baca-tulis) bagi siswa-siswanya.
            Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nida dan Harris (Tarigan, 1981: 1) bahwa keterampilan berbahasa mencakup empat komponen, yaitu keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), serta keterampilan menulis (writing skills). Keempat keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Namun keempat keterampilan berbahasa tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu komunikasi tatap muka serta komunikasi tidak tatap muka (Tarigan, 1981: 2). Komunikasi tatap muka terdiri dari keterampilan menyimak yang bersifat langsung, apresiatif, reseptif, dan fungsional serta keterampilan berbicara yang bersifat langsung, produktif, dan ekspresif. Sementara itu, komunikasi tidak tatap muka meliputi keterampilan membaca yang bersifat tidak langsung, apresiatif, reseptif, dan fungsional serta keterampilan menulis yang bersifat tidak langsung, produktif, dan ekspresif. Dari pengelompokan yang dikemukakan oleh Tarigan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan berbicara sangat erat kaitannya dengan kegiatan menyimak sedangkan kegiatan membaca sangat erat kaitannya dengan kegiatan menulis.
            Pada bagian sebelumnya telah dinyatakan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam mewujudkan budaya literasi bagi siswa-siswanya. Pembelajaran membaca khususnya pada siswa sekolah diupayakan sedemikian rupa dengan mengintegrasikannya dengan keterampilan menulis. Namun tidak tertutup kemungkinan pengintegrasian keterampilan membaca dengan kajian dari disiplin ilmu yang lain, misalnya psikologi. Hal ini dikarenakan oleh adanya proses-proses mental di dalam otak atau minda manusia yang terlibat ketika seseorang  berbahasa (Dardjowijojo, 2003: 7). Oleh karena itu, dalam ilmu bahasa interdisipliner dikenal psikolinguistik yang merupakan integrasi dari dua disiplin ilmu , yaitu psikologi dan linguistik.
            Keterampilan membaca yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa tentunya tidak dapat terlepas dari peranan psikologi dalam upaya pemahaman terhadap bacaan. Hal ini sejalan dengan uraian Baker dan Brown (Thierney, 1990: 302) mengenai kemampuan pembaca yang dikaitkan dengan psikologi pengajaran bahasa. Mereka menguraikan bahwa pembaca sebenarnya memiliki kemampuan metakognisi yang seringkali tidak disadari atau diketahui oleh pembaca sendiri. Kemampuan metakognisi ini sangat berperan dalam upaya untuk memahami materi bacaan.
            Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai bidang ilmu. Hal ini dikarenakan bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengkomunikasikan berbagai bidang ilmu tersebut sehingga keterampilan berbahasa mutlak diperlukan. Tuntutan kebutuhan untuk menguasai berbagai bidang ilmu ini tentunya harus disikapi secara arif. Dalam bidang pengajaran, pengetahuan dan keterampilan berbahasa digunakan untuk mempelajari materi pelajaran (content area material) baik bidang ilmu sosial dan budaya seperti sejarah, ekonomi, geografi, bahasa dan sastra, maupun bidang ilmu eksakta  seperti fisika, matematika, biologi, dan kimia. Keterampilan membaca dan menulis merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh guru dan siswa untuk mempelajari berbagai bidang ilmu tersebut.


  • Ragam bahasa semi ilmiah
Karya Semi Ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannyapun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya tekhnis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan benar atau tidaknya atau sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi.
contoh:
Akhir-akhir ini peristiwa bencana sering menimpa negeri ini, semua pihak merasa terkejut dengan rentetan kejadian bencana, diawali dengan Gempa Bumi yang diiringi gelombang tsunami di Nangroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara yang terjadi tanggal 26 Oktober 2004, merenggut nyawa berkisar 240.000 orang meninggal dan hilang, dari laporan Overseas Development Institute (ODI) tahun 2005, total kerugian finansial dan ekonomi dari bencana tsunami mencapai US$ 4,45 miliar atau sekitar Rp. 40 triliun atau sekitar 1,2 persen dari total PDB tahun 2006 , tanggal 6 Januari 2006 terjadi banjir Bandang dan tanah Longsor di Jember Jawa Timur dan Banjarnegara Jawa Tengah, tanggal 27 Mei 2006 Gempa Bumi yang terjadi di Daerah Istimewa Jogyakarta dan Jawa Tengah yang mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia, dari catatan Bappenas tahun 2006, kerugian finansial dan ekonomi akibat gempa bumi di Yogjakarta sebesar Rp 29,1 triliun, angka tersebut meliputi total kerusakan aset pemerintah, dunia usaha dan warga. Tanggal 2 Februari 2007 air menggenangi Ibukota Jakarta dan wilayah Jabodetabek setinggi 1 sampai 5 Meter, yang mengakibatkan ribuan rumah warga ibukota Jakarta dan wilayah Bekasi dan Tangerang terendam, dengan total kerugian finansial dan ekonomi akibat banjir berdasarkan perhitungan Bappenas mencapai Rp 8,8 triliun, tanggal 6 Maret 2007 terjadi Gempa Bumi di Sumatera Barat yang meluluhlantakkan pemukiman penduduk yang berakibat ratusan jiwa meninggal dan ribuan rumah rusak serta tanggal 10 September 2007 Gempa Bumi menghantam Provinsi Bengkulu dengan kekuatan 7,9 skala richter. Dari rangkaian kejadian tersebut membuktikan bahwa wilayah kepulauan Indonesia rentan terhadap kejadian peristiwa alam yang dinamakan bencana alam.


  • Ragam bahasa non ilmiah
Karya Non Ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Contoh:
Pengalamanku ketika bermain futsal. Setiap seminggu sekali aku dan teman selalu latihan futsal. Kami latihan futsal untuk membentuk tim yang kompak dan dapat juara ketika kompetesi…
Kami selalu bejuang agar dapat menajdi tim terbaik dan semoga tim kami selalu kompak dan dapat seperti yang diharapkan.Amin.

Referensi: